oPOWmwJgFpDZGGREinivYyjG5tmdOTmGHFQPsudj

Penjelasan Jurumiyah Tentang I’rab Lengkap

Konten [Tampil]

BAB 5

TENTANG I’RAB

  1. Pengertian dan Macam-macam I’rab

a. Pengertian I’rab

I’rab adalah berubahnya bunyi dan harokat akhir kata karena masuknya amil yang berbeda-beda.

Seperti : جَاءَ زَيْدٌ، رَأَيْتُ زَيْدًا، مَرَرْتُ بِزَيْدٍ , ،لَمْ يَضْرِبْ

kata-kata yang bergaris bawah di tersebut, meskipun pada dasarnya kata dan maknanya sama: zaidun, yang menunjukkan nama seseorang, akan tetapi huruf belakangnya harokatnya tidak sama. Perubahan harokat terakhir dari sebuah kata itulah yang disebut sebagai i’rab.

Perubahan tersebut dipengaruhi (dikarenakan) oleh sesuatu yang mewajibkan kata itu harus berubah harokatnya. Sesuatu yang mewajibkan itulah yang kita sebut amil.

Berikut penjelasannya:

  • Kalimat: جَاءَ زَيْدٌ,kata zaidun berharokat dommah atau kita sebut: di-rofa’, karena kedudukannya sebagai fa’il (pelaku / subyek). Sedangkan fa’il itu wajib rofa’.
  • Kalimat : رَأَيْتُ زَيْدًا, kata zaidan huruf akhirnya difathahkan atau kita sebut di-nashabkan, karena posisi zaidan adalah sebagai maf’ul (obyek), sedangkan maf’ul wajib di-nashab.
  • Kalimat مَرَرْتُ بِزَيْدٍ,kata; zaidin, huruf terakhirnya di-kasrah atau disebut juga di-khafadl atau di-jer-kan, karena sebelum kata zaaidin, ada huruf khofad berupa ba’. Sedangkan semua isim yang didahului oleh huruf khofadl harus di-khafad-kan.
  • Kalimat لَمْ يَضْرِبْ, kata يَضْرِبْ, huruf terakhirnya disukunkan, atau kita sebut di-jazem, karena dia awali huruf jazm berupa لَمْ, sedangkan setiap lafadz yang diawali huruf jazem, maka huruf terakhirnya harus jazem.

Pada kalimat pertama, ada sesuatu yang mewajibkan kata zaidun harus rofa’, yaitu kedudukannya sebagai fa’il. Seadangkan pada kalimat kedua, kedudukannya zaidan yang sebagai maf’ul membuatnya harus nashab. Dan pada kalimat terakhir, ada huruf khofadl berupa ba’, yang mengharuskan lafadz zaidin di jerkan. Semua yang mewajibkan atau mengharuskan suatu lafadz itu dirafa’, nashab atau khafadl, itulah yang kita sebut dengan amil.

b. Macam-macam i’rab

Macam-macam i’rab ada 4 (empat), yaitu:

  1. I’rab rofa’
  2. I’rab nashab
  3. I’rab khofadl / jer
  4. I’rab jazem

a) I’rab rafa’ memiliki tanda-tanda: dlammah (ُ) baik dlammah biasa maupun dlammah tanwin.

Contoh جَاءَ زَيْدٌ.

b) I’rab nashab memiliki tanda asli: fathah (َ) baik fathah biasa maupun fathah tanwin.

Contoh رَأَيْتُ زَيْدًا.

c) I’rab khafadl/jer memiliki tanda asli: kasrah (ِ) baik kasrah biasa maupun kasrah tanwin.

Contoh مَرَرْتُ بِزَيْدٍ.

d) I’rab jazem memiliki tanda asli: sukun (ُ).

Contoh لَمْ يَضْرِبْ

Sedangkan untuk lebih memahami tentang pembagian i’rab beserta tanda-tanda-nya, lihat skema di bawah ini :

Soal Latihan

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan i’rab dan berilah contohnya !

2. Sebutkan pembagian i’rab dan berikan contohnya masing-masing 1 (satu) !

3. Sebutkan tanda asli dari masing-masing i’rab !

2. Tanda-tanda I’rab Rofa’

I’rab rafa’ memiliki 4 (empat) tanda. 1) Dlammah, 2) Wawu, 3) Alif, 4) Tsubut (tetap) nun.

a) Dlammah merupakan tanda asli, dan menjadi tanda bagi i’rab rafa’ dalam beberapa tempat. Yaitu: 1) Isim Mufrad; 2) Jama’ Taktsir; 3) Jama’ Muannats Salim; 4) fi’il Mudlari’ Shaih Akhir.

a. Isim Mufrod

Isim mufrad adalah kata benda yang bermakan satu/tunggal.

seperti:

سَارَ الْمُسَافِرُ (musafir berjalan).

b. Jamak Taktsir

Ialah kata benda yang mengandung arti banyak dan tidak beraturan, karena jamak taksir ini tidak memiliki aturan yang baku dalam hal perubahan dari bentuk mufrad (tunggal/singular)-nya ke bentuk jamak (plural)-nya dalam hal susunan hurufnya.

Karena jamak taksir adalah jamak yang tidak memiliki aturan yang baku, maka isim-isim mufrad yang memiliki bentuk jamak taksir perlu dihafalkan.

seperti:

c. Jamak mu’annats salim

Ialah kata benda yang menunjukkan makna perempuan [feminim] dan banyak [jamak].

seperti: جَمَعَتْ المُسْلِمَاتُ (para muslim perempuan itu berkumpul).

Berbeda dengan jamak taksir yang tidak beraturan, jamak mu’annats salim memiliki aturan dalam pembentukannya, dari bentuk mufrad (tunggal/ single), menuju bentuk jamak (jamak/plural). Aturan tersebut adalah, jika sebuah isim mufrad akan dibuat menjadi bentuk jamak mu’annats, maka ditambah dengan alif dan ta’ pada akhir katanya.

Seperti:

d. fi’il Mudlari’ Dan lain sebagainya.

sebagaimana telah dijelaskan bahwa fi’il mudlari’ ialah kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dikerjakan. Fi’il mudlari’ ditandai dengan adanya huruf mudlara’ah pada awal kata sebuah fi’il. Dimana masing-masing huruf mudlara’ah tersebut mewakili sebuah dlamir atau kata ganti. Huruf mudlara’ah ada 4(empat) macam, yaitu:

1) Fi’il Mudlari’ shahih akhirDilihat dari segi huruf penyusun katanya, fi’il mudlari’ dibagi menjadi dua. 1) fi’il mudlari’ shahih akhir, dan 2) fi’il Mudlari’ mu’tal akhir.

Semua fi’il mudlari’ yang huruf terakhirnya tidak terdiri dari huruf illat. Seperti:

No

Fi’il Mudlari’

Arti

1.

يَقْرَأُ

Dia membaca

2.

نَجْلِسُ

Kami duduk

3.

أَكْتُبُ

Saya menulis

4.

يَلْعَبُ

Dia bermain

5.

تَدْرُسُ

Kamu mengulangi pelajaran

2) Fi’il Mudlari’ Mu’tal Akhir

Adalah fi’il mudlari’ yang huruf terakhirnya terdiri dari salah satu huruf illat. Huruf illat ada 3 (tiga), yaitu: alif, wawu dan ya’. Seperti:

No

Fi’il Mudlari’

Arti

1.

يَخْشَى

Dia takut

2.

نَدْعُوْ

Kami berdoa

3.

يَرْمِيْ

Dia melempar

4.

أُصَلِّى

Saya Sholat

Kedua fi’il tersebut jika dirafa’kan maka harus dirafa’kan dengan dlammah. Haya saja perbedaannya, jika fi’il yang pertama (shaih akir) tanda rafa’nya adalah dlammah yang dzahir (jelas), tapi yang kedua tanda rafa’nya adalah muqaddar (perkiraan).

Kesimpulan:

1. Setiap isim mufrad jika di-rfa’, maka menggunakan tanda rafa’**dlommah.

2. Setiap jama’ taktsir jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’**dlommah

3. Setiap jama’ mu’annats salim jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’**dlammah

4. Setiap fi’il mudlari’ shohih akhir jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’**dlammah

b) Wawu Wawu menjadi tanda bagi i’rab rofa’ pada 2 (dua) tempat, yaitu: 1) Jama’ Mudzakkar Salim; 2) Asma’ Al-Khamsah.

a. Jama’ Mudzakkar salim

Ialah isim yang menunjukkan sekumpulan orang laki-laki.

seperti :

تَعَلَّمَ الْمُسْلِمُوْنَ

Para muslim belajar

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ

Dan pada hari ketika orang-orang mukmin bergembira

وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَابِرُوْنَ

Dan jika ada diantara kalian 10 (sepuluh orang) yang sabar.

Sebagaimana jamak mu’annats salim, jamak mudzakkar salim adalah jamak yang beraturan. Untuk membuat sebuah isim mufrad menjadi jamak mudzakkar salim, maka isim mufrad tersebut ditambah dengan wawu dan nun jika dirafa’kan. Dan ditambah ya’ dan nun jika dinashabkan, dan atau dikhafadlkan.

Seperti:

seperti : جَاءَ أَبُوْكَb. Asma’ul Khomsah (Isim-isim yang lima),

Asma’ul Khomsah (isim yang lima) itu adalah: أَبُوْكَ، أَخُوْكَ، حَمُوْكَ، فُوكَ، ذْوْمَالٍ kesemuanya itu jika di-rafa’, maka tanda rafa’nya adalah wawu.

Seperti:

وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, Maka (cara yang mereka lakukan itu) Tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah..... (Yusuf: 68)

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ....

(yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri .... (Yusuf: 8)

Kesimpulan:

1. Setiap jama’ mudzakkar salim jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’**wawu

2. Setiap asma’ul khamsah jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’ wawu

Keterangan:

Asma’ul khamsah harus dirafa’kan dengan wawu, dinashabkan dengan alif dan dikhafadlkan dengan ya’, dengan ketentuan: ia dimudlafkan (disandarkan) kepada selain dlamir mutakallim. Seperti:

هُوَ أَبُوْبَكْرٍ

Dia adalah Abu Bakar

يَا أَبَا بَكْرٍ

Wahai Abu Bakar

جِئْتُكُمْ رَجِيًّا بِأَبِيْ بَكْرٍ

Aku datang berharab bertemu dengan Abu Bakar

جَاءَ أَبُوْكَ

Bapakmu datang

رَأَيْتُ اَبَاكَ

Saya melihat ayahmu

Sedangkan jika dimudlafkan (disandarkan) kepada dlamir mutakallim, maka ditandai dengan dlammah muqaddar (diperkirakan) atas huruf yang sesuai dengan dlamir mutakallim tersebut yaitu: kasrah. Seperti:

هُوَ أَبِى

Dia adalah Ayahku

يَا أَبِى

Wahai Ayahku

جِئْتُكُمْ رَجِيًّا بِأَبِى

Aku datang berharab bertemu dengan Ayahku

جَاءَ أَبِى

Ayahku datang

رَأَيْتُ اَبِى

Saya melihat ayahku

c) Alif menjadi tanda bagi i’rab rafa’ pada satu tempat, yaitu: Isim tasniyah

Isim tasniyah adalah kata benda yang menunjukkan makna dua.

Seperti:

هَذَانِ خَصْمَانِ

Inilah dua orang yang saling bermusuhan

صَلَّى الْمسْلِمَانِ

Dua orang muslim sholat

قَالَ رَجُلَانِ

Berkatalah dua orang laki-laki

Untuk membuat sebuah isim mufrad menjadi isim tatsniyah, maka isim mufrad tersebut ditambah dengan alif dan nun pada kahir katanya. Seperti:

No

Isim mufrad

Arti mufrad

Isim tatsniyah

Arti tatsniyah

Keterangan

1

صَالِحٌ

Laki-laki sholih

صَالِحَانِ

Dua orang lelaki sholih

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

2

صَالِحَةٌ

Perempuan baik

صَلِحَتَانِ

Dua orang perempuan baik

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

3

صَابِرٌ

Laki-laki penyabar

صَابِرَانِ

Dua orang  lelaki penyabar

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

4

صَابِرَةٌ

Perempuan penyabar

صَابِرَتَانِ

Dua orang perempuan penyabar

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

5

مُؤْمِنٌ

Laki-laki beriman

مُؤْمِنَانِ

Dua orang lelaki beriman

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

6

مُؤْمِنَةٌ

Perempuan beriman

مُؤْمِنَتَانِ

Dua orang perempuan beriman

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

7

عَالِمٌ

Laki-laki pandai

عَالِمَانِ

Dua orang laki-laki pandai

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

8

عَالِمَةٌ

Perempuan pandai

عَالِمَتَانِ

Dua orang perempuan pandai

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

9

مُدَرِّسٌ

Guru laki-laki

مُدَرِّسَانِ

Dua orang guru laki-laki

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

10

مُدَرِّسَةٌ

Guru perempuan

مُدَرِّسَتَانِ

Dua orang guru perempuan

Ditambah dengan:

ا dan ن di akhirnya

Kesimpulan:

Setiap isim tatsniyah jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’ alif

d) Tsubutun Nun, menjadi tanda bagi i’rab rofa’ pada : fi’il-fi’il mudlari’ yang wazannya mengikuti wazan Af’alul Khamsah (fi’il-fi’il yang lima),

Af’alul Khamsah (fi’il yang lima) itu adalah: يَفْعَلَانِ، تَفْعَلَانِ، يَفْعَلُوْن، تَفْعَلُوْنَ، تَفْعَلِيْنَ kesemuanya itu jika di-rafa’, maka di-rafa’ dengan tsubutun nuuni. Atau tetapnya nun di dalamnya.

seperti :

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan Kedua-duanya tunduk kepada nya. (Ar-Rahman: 6)

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 27-28)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ.لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ.

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (Al-Kafirun: 1-2)

....ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ

.... kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu memper-saksikannya. (Al-Baqarah: 84)

Tabel Af’alul Khomsah

Tulisan berwarna merah di bawah ini adalah af’alul Khomsah:

Kesimpulan:

Setiap af’alul khomsah jika dirafa’, maka menggunakan tanda rafa’**nun

Keterangan:

Wawu dan tanda-tanda rofa’ yang selain dlammah adalah tanda-tanda pengganti, atau disebut juga na’ib.

Untuk lebih memahami lihatlah skema di bawah ini :

Soal Latihan

  1. Ada berapakah tanda-tanda i’rab rofa’ ? Sebutkan !

  1. Berikan paling tidak 5 (lima) contoh isim dan fi’il yang dirofa’ ?

  1. Sebutkan asma’ul khomsah yang dirofa’ !

  1. Sebutkan af’aalul khomsah yang dirofa’ !

  1. Carilah isim-isim dan fi’il-fi’il yang dirofa’ dari ayat dan hadits berikut ini, serta sebutkan tanda rofa’nya !

  1. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (١) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (٢) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (٣)وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (٤) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (٥) فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا (٦) إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الأرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلا (٧) وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا (٨)

  1. لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٢١) هُوَاللَّهُ الَّذِي لاإِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاإِلَهَ إِلاهُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)

  1. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، "إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لَايُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

  1. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِى الْبَحْرِ: "هُوَ الطَهُوْرُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

3. Tanda-tanda I’rab Nashab

I’rab nashab memiliki 5 (lima) tanda, yaitu: 1) fathah, 2) alif, 3) ya’, 4) kasrah, 5) Khadlfun nun. Fathah merupakan tanda asli, sedangkan yang lain adalah tanda pengganti (na’ib).

a) Fathah. Fathah menjadi tanda bagi i’rab nashab pada 3 (tiga) tempat. Yaitu pada: 1) Isim Mufrad; 2) Jama’ Taksir; 3) Fi’il Mudlari’.

a) isim mufrad

seperti:

رَأَيْتُ زَيْدًا

Aku melihat Zaid

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (Al-Baqarah: 9)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (Al-Baqarah: 9)

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 16)

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا....

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, ....  (Al-Baqarah: 17)

b) Jama’ taksir

Seperti:

.... وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

.... dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya. (Al-Anbiya’: 79)

c) fi’il mudlari’

seperti

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya". (Al-Baqarah: 55)

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ....

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja.... (Al-Baqarah: 61)

.... قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ....

.... Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, .... (Al-Baqarah: 80)

Kesimpulan:

1. Setiap isim mufrad jika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab fathah

2. Setiap fi’il mudlari’ jika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab fathah

b) Alif menjadi tanda bagi i’rab nashab pada 1 (satu) tempat saja, yakni pada: asma’ul khamsah,

seperti :

رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ وَحَمَاكَ وَفَاكَ وَذَامَالٍ

Aku melihat bapakmu, sauda-ramu, pamanmu, mulutmu dan seorang kaya.

يَا أَللهُ يَا مُحَمَّدُ يَا أبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ يَا عُمَرُ عُثْمَانُ وَعَلِى سِتِى فاطِيْمَةَ بِنْتِى رَسُوْلِى

Ya Allah !, ya Muhammad !, Ya Abu Bakar !, Ya Utsman, Ya Ali !, Siti Fatimah adalah Putri Rasulullah.

Kesimpulan:

Setiap Asma’ul Khamsah jika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab alif

c) Ya’, menjadi tanda bagi i’rab nashab terdapat pada 2 (dua) tempat, yaitu pada : 1) Isim Tatsniyah; 2) Jama’ Mudzakkar Salim.

1) Isim Tatsniyah, seperti:

رَأَيْتُ زَيْدَيْنِ

Aku melihat 2 (dua) Zaid

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ....

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan .... (Al-Baqarah: 233)

رَبَنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ

Ya Tuhan Kami, Jadikanlah kami berdua orang yang pasrah pada-Mu. !

2) Jama’ mudzakkar salim,

seperti

رَأَيْتُ زَيدِيْنَ

Aku melihat banyak Zaid

كَذَالِكَ نُنْجِى الْمُؤْنِيْنَ

Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman

رَأَيْتَ الْمُنَافِقِيْنَ

Kamu melihat orang-orang munafiq

هُمْ صَائِمُوْنَ

Mereka adalah orang-orang yang berpuasa

Kesimpulan:

1. Setiap isim tatsniyah jika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab ya’**.

2. Setiap jama’ mudzakkar salimjika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab ya’**.

d) Kasrah, menjadi tanda bagi i’rab nashab pada 1 (satu) tempat: yaitu: jama’ mu’annats salim. Seperti:

خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ

Allah telah menciptakan banyak langit

رَأَيْتُ المُسْلِمَاتِ

Aku melihat orang-orang perempuan muslim

Kesimpulan:

Setiap jama’ mu’annats salim jika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab kasrah.

e) Khadfun nun, menjadi tanda bagi i’rab nashab pada af’alul khamsah saja. Seperti :

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

.... dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al-Baqarah: 184)

....إِلَّا أَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ....

.... Kecuali kalian berdua akan menjadi dua malaikat.......

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ....

Berkata Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf Amat menyedihkanku (Yusuf: 13)

وَأَنْ تَصُومُوا.Kata تَصُومُوا, asalnya adalah تَصُومُونَ, akan tetapi karena ia dinashab, maka huruf terakhirnya, yaitu nun, harus dibuang. Demikian pula kata تَكُوْنَا dan تَذْهَبُوا asalnya adalah تَكُوْنَانِ dan تَذْهَبُوانَ, akan tetapi karena dinashabkan, maka huruf nun pada akhir katanya akan dibuang.

Kesimpulan:

Setiap af’alul khmsah, jika di-nashab, maka menggunakan tanda nashab khadfun nun (membuang nun).

Lihat skema tanda-tanda i’rab nashab di bawah ini untuk dapat lebih memahami :


Soal Latihan

1. Ada berapakah tanda-tanda i’rab Nashab? Sebutkan !

2. Berikan paling tidak 5 (lima) contoh isim dan fi’il yang dinashab dan sebutkan tanda-tanda nashab di dalamnya !

3. Sebutkan asma’ul khomsah yang dinashab !

4. Sebutkan af’aalul khomsah yang dinashab !

5. Carilah isim-isim dan fi’il-fi’il yang dinashab dari ayat dan hadits berikut ini, serta sebutkan tanda nashab-nya !

1. لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ(١٨١)

2. تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لارَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ (٣) اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاشَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ (٤) يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٥)

3. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، "سَيَأْتِىْ عَلَى أُمَتِى زَمَانٌ يُحِبُّونَ الْخَمْسَ وَيَنْسَوْنَ الْخِمْسَ. يُحِبُّوْنَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْأَخِرَةَ وَيُحِبُّوْن الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ........إِلَخْ"

4. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ ذُنُوْبًا يَوْمَ الْقَيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ كَلَامًا فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ

4. Tanda-tanda I’rab Khofadl/ Jar

I’rab khafadl mempunyai 3 (tiga) tanda, yaitu :

1) kasrah,

2) ya’ dan

3) fathah.

Kasrah adalah tanda asli, sedangkan yang lain merupakan tanda pengganti (naib).

a. Kasrah menjadi tanda bagi i’rab khafadl pada 3 (tiga) tempat, yaitu: 1) Isim Mufrad; 2) Jama’ Taksir; 3) Jana’ Mu’annats Salim.

1) isim mufrad

seperti :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

Saya berjalan bertemu dengan zaid

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ ....

Tidaklah Kami mengutus seorang utusan kecuali dengan bahasa kaum-Nya (Ibrahim: 4)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ....

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang (Ibrahim: 5)

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

.... dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (Ibrahim: 5)

2) jama’ taksir

seperti:

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

.... dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (Ibrahim: 5)

وَصِيَّةً لأزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

.... hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya) .... (Al-Baqarah: 240)

مَرَرْتُ بِالرِّجَالِ

Saya bertemu dengan para laki-laki

مَرَرْتُ بِالنِّسَاءِ

Aku bertemu dengan para perempuan

3) jama’ mu’annats salim seperti:

مَرَرْتُ بِالْمُسْلِمَاتِ

saya berjalan bertemu dengan orang-orang perempuan muslimah

قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ !

Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman !

Kesimpulan:

1. Setiap Isim mufrad, jika di-khafadl, maka menggunakan tanda khafadl kasrah.

2. Setiap jama’ taktsir, jika di-khafadl, maka menggunakan tanda khafad lkasrah.

3. Setipa jama’ mu’annats salim, jika di-khafadl, maka menggunakan tanda khafadl kasrah.

b. Ya’ menjadi tanda bagi i’rab khafad pada 3 (tiga) tampat juga, yaitu: 1) Asma’ul Khamsah; 2) Isim Tatsniyah; 3) Jama’ Mudzakkar Salim.

1) asma’ul khomsah

seperti:

مَرَرْتُ بِأَخِيْكَ وأَبِيْكَ وَحَمِيْكَ

saya berjalan bertemu dengan saudara, bapak dan pamanmu

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ....

(yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri .... (Yusuf: 8)

إِرْجِعُوا إِلَى أَبِيْكُمْ

Pergilah kalian pada ayah kalian !

.... كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيْهِ

.... Sebagaimana Aku percayakan kalian atas Saudaranya.

2) isim tatsniyah

seperti :

مَرَرْتُ بِالْمُسْلِمَيْنِ

saya berjalan bertemu dengan dua orang Islam

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun". (al-Kahfi: 60)

3) jama’ mudzakkar salim

seperti:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

kasih sayang Allah atas orang-orang beriman

قُل لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Katakan pada orang-orang yang beriman

مَرَرْتُ بِالْمُؤْمِنِيْنَ

Aku bertemu orang-orang beriman

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Segala Puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam

Kesimpulan:

1. Setiap asma’ul khamsah, jika di-khafadl, maka menggunakan tanda khafadl ya’.

2. Setiap isim tatsniyah, jika di-khafadl, maka menggunakan tanda khafadl ya’.

3. Setiap jama’ mudzakkar salim jika di-khafadl, maka menggunakan tanda khafadl ya’.

c. Fathah menjadi tanda bagi i’rab khofadl pada : isim ghayru munsharif

Isim ghayra munsharif adalah isim (kata benda) yang tidak menerima tashrif, atau lebih mudahnya : ‘isim yang tidak menerima tanwin’. Artinya; jika isim ghayru munshorif ini harus di-khafadl, maka tanda khafadlnya adalah fathah. Seperti :

مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ

Saya berjalan bertemu dengan Ahmad

وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ

Dan kami wahyukan pada Ibrahim dan Ismail

.... إِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْاهَا

.... apabila kalian diberi sebuah penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau yang sepadan

Kesimpulan:

Setiap isim ghayru munsharif, jika di-kahfadl, maka menggunakan tanda kahfadl fathah.

Sekema tanda i’rab khafadl:

Soal Latihan

1. Ada berapakah tanda-tanda i’rab Khafadl? Sebutkan !

2. Berikan paling tidak 5 (lima) contoh isim yang dikhafadl dan sebutkan tanda-tanda khafadl di dalamnya !

3. Sebutkan asma’ul khomsah yang dikhafadl!

4. Carilah isim-isim dikhafadldari ayat, hadits dan atsar berikut ini, serta sebutkan tanda khafadl-nya !

1. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاالضَّالِّينَ (٧)

2. لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِمَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٢٨) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (١٢٩)

3. بَاطِلٌ بِنِظَامٍ قَدْ يَغْلِبُ الْحَقَّ بِلَا نِظَامٍ

4. الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

5. Tanda-tanda I’rab Jazm

I’rab jazm mempunyai 2 (dua) tanda.

1) sukun; dan ini merupakan tanda asli,

2) khadfu (membuang huruf akhir).

Yang dimaksud dengan membuang huruf akhir ini ialah menghilangkan nun pada Af’alul Khamsah (fi’il yang lima), seperti:

لَمْ يَضْرِبَا (mereka berdua tidak memukul); kata يَضْرِبَا berasal dari kata, يَضْرِبَانِ. Atau bisa disebut juga membuang nun pada fi’il-fi’il yang tandak rofa’nya dengan nun.

Dan membuang huruf illat bagi kata kerja yang diakhiri dengan huruf illat seperti:

لَمْ يَخْشَ (tidak takut); kata يَخْشَberasal dari kata يَخْشَى.

a. Sukun menjadi tanda bagi I’rab jazm pada 1 (satu) tempat, yakni: fi’il Mudlari’ shohih akhir.

Seperti:

لَمْ أَجْلِسْ

saya tidak duduk

لَم أَكْتُبْ

Saya tidak menulis

لَمْ أَسْمَعْ

saya tidak mendengar

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Al-Ikhlas: 3-4)

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلادِ.

yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (Al-Fajr: 8)

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?. (Al-Insyirah: 1)

Kesimpulan:

Setiap fi’il mudlari’ shohih akhir, jika di-jazm maka menggunakan tanda jazm sukun.

b. Khadfu (membuang huruf akhir) ada dua macam, yaitu:

(a) Membuang nun pada af’alul khomsah; yang saat rofa’ diberi tanda nun,

Seperti:

لَمْ يَضْرِبَا

mereka berdua tidak memukul

لَمْ تَجْلِسَا

kalian berdua tidak duduk

أَلمْ تَعْلَمَا

Tidakkah mereka berdua tahu

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا

Dan jika kalian bersabar dan bertaqwa ....

لَا تَخَافِى

Janganlah engkau (perempuan) takut 


Kataيَضْرِبَا, asalnya يَضْرِبَانِ, akan tetapi karena di-jazm, maka huruf nun harus dibuang. Kata تَجْلِسَا, asalnya تَجْلِسَانِ, akan tetapi karena di-jazm, maka huruf nun harus dibuang. Kata تَعْلَمَا, asalnya تَعْلَمَانِ, akan tetapi karena di-jazm, maka huruf nun harus dibuang.

(b) Membuang huruf illat bagi fiil mudlari’ yang huruf akhirnya terdiri dari huruf illat

Seperti:

لَمْ يَخْشَ زَيْدٌ

zaid tidak takut

لَمْ يَرْمِ عَمْرٌو

Amar tidak melempar

لَمْ يَدْعُ زَيْدٌ عَمرًا

Zaid tidak memanggil Amar

مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

Barang siapa yang Allah menunjukkan, maka ia akan mendapat pentunjuk.

وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ

Dain tidaklah takut melainkan kepada Allah

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا أَخَرَ 

Dan barang siapa yang berdoa dengan menyekutukan Allah  ........

  • Kata يَخْشَ, asalnya يَخْشَى, huruf terakhir berupa huruf illat: alif layyinah, akan tetapi karena di-jazm, maka huruf illat itu harus dibuang.
  • Kata يَرْمِ, asalnya يَرْمِى, huruf terakhirnya berupa huruf illat: ya’, akan tetapi karena di-jazm, maka huruf illat itu harus dibuang.
  • Kata يَدْعُ, asalnya يَدْعُو, huruf terakhirnya berupa huruf illat: wawu, akan tetapi karena di-jazm, maka huruf illat itu harus dibuang.

Kesimpulan :

1. Setiap af’alul khomsah jika di-jazm,maka menggunakan tanda jazm khdlfun nun (membuang nun).

2. Setiap fi’il mudlari’ mu’tal akhir (huruf terakhirnya merupakan huruf illat) jika di-jazm, maka menggunakan tanda jazm khadfu harfil illah (membuang huruf illat).


Soal Latihan

1. Ada berapakah tanda-tanda i’rab Jazm? Sebutkan !

2. Berikan paling tidak masing-masing 5 (lima) contoh fi’il yang jazm-kan dengan membuang nun dan membuang huruf illat !

3. Sebutkan macam-macam a’alul Khamsah yang di-jazmkan!

4. Carilah fi’il-fi’il yang di-jam-kan, dari ayat-ayat berikut ini !

1) إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ ٥ هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ٦ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّالْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُوا لألْبَابِ

6. Isim-isim dan fi’il yang tanda i’rabnya muqaddar

Selain isim-isim yang tanda i’rabnya dzahir (jelas) sebagaimana pada contoh-contoh yang dipaparkan di atas, ada pula isim-isim yang i’rabnya muqaddar. Yakni pada isim-isim di bawah ini:

1. Isim yang mudlaf pada ya’ (dlamir) mutakallim. Seperti:

جَاءَ غُلَامِى

: Anak laik-laki saya datang

رَأَيْتُ غُلاَمِى

: Saya melihat anak laki-laki saya

مَرَرْتُ بِغُلاَمِى

: Saya bertemu dengan anak laki-laki saya

جَاءَ إِبْنِى

: Anakku datang

رَأَيْتُ إِبْنِى

: Aku melihat anakku

مَرَرْتُ بِإِبْنِى

: Aku bertemu dengan anakku

2. Isim mu’rob yang huruf terakhirnya berupa alif (Mu’tal Akhir bil Alif). Tanda i’rab dlommah, fathah dan kasrah dimuqaddarkan. Seperti:


3. Pada isim mu’rob yang huruf terakhirnya berupa ya’ (Mu’tal Akhir bil Ya’), tanda i’rob berupa dlommah dan kasrah dimuqoddarkan. Sedangkan tanda i’rob berupa fathah diidharkan. Seperti:

Contoh

Arti

Keterangan

جَاءَ الْقَاضِي

:Hakim datang

Dirafa’kan dengan dalmmah muqaddar

رَأَيْتُ الْقَاضِيَ

:Aku Melihat hakim

Dinashabkan dengan fathah muqaddar

مَرَرْتُ بِالْقَاضِيَ

:Aku bertemu dengan hakim

Dinashabkan dengan kasrah dzahir

4. Pada fi’il mudhori’ mu’tal akhir dengan alif tanda i’rob berupa dlammah dan fathah dimuqoddarkan. Seperti

Contoh

Arti

Keterangan

يَخْشَى زَيْدٌ

Zaid takut

Dirafa’kan dengan dlammah muqaddar

لَنْ يَخْشَى زَيْدٌ

Zaid tidak akan takut

Dinashabkan dengan fathah muqaddar

5. Pada fi’il mudhori’ mu’tal akhir dengan huruf wawu dan ya’, maka yang dimuqoddarkan hanya dlammah saja. Sedangkan fathah diidharkan. Seperti:

Contoh

Arti

Keterangan

يَدْعُوْ زَيْدٌ

Zaid memanggil

Dirafa’kan dengan dlammah muqaddar

يَرْمِى بَكْرٌ

Bakar Melempar

Dirafa’kan dengan dlammah muqaddar

لَنْ يَدْعُوَ زَيْدٌ

Zaid tidak akan memanggil

Dinashabkan dengan fathah dzahir

لَنْ يَرْمِيَ بَكْرٌ

Bakar tidak akan melempar

Dinashabkan dengan fathah dzahir

6. Sedangkan pada i’rab jazam-nya, fi’il mudlari’ mu’tal akhir ditandai daengan dibuangnya huruf terakhirnya. Sebagaimana keterangan yang telah dipaparkan sebelumnya.


7. Isim-isim yang mabni (tandanya tetap)

Perlu diketahui bahwa, isim dari segi tandanya dibagi menjadi 2 (dua). Yaitu:

1) Isim mu’rab

Ialah isim-isim yang tandanya bisa berubah. Baik perubahannya jelas (dzahir) maupun secara perkiraan (muqaddar). Seperti contoh-contoh yang telah di utarakan di atas.

2) Isim mabni

Yaitu isim-isim yang tandanya tetap, tidak bisa berubah. Ini berlaku bagi isim-isim yang menyerupai huruf. Seperti isim mubham (isim isyarah). Contoh:

Isim isyarah

Arti

Contoh

Arti

keterangan

هَذَا

Ini

هَذَا غُلَامُ زَيْدٍ

Ini anak laki-laki zaid

هَذَا 

(isim isyarah) yang mahal rafa’ karena menjadi mubtada’

هَذِهِ

Ini

هَذِهِ الْكُرَّاسَةِ

Ini adalah buku tulis

هَذِهِ 

(isim isyarah) yang mahal khafadl/jer karena menjadi majrur

ذَالِكَ

Itu

ذَالِكَ تِلْمِيْذٌ

Itu adalah murid

ذَالِكَ 

(isim isyarah) yang mahal rafa’ karena menjadi mubtada’

تِلْكَ

Itu

رَأَيْتُ تِلْكَ مَدْرَسَةَ

Itu madrasah

تِلْكَ 

(isim isyarah) yang mahal nashab karena menjadi maf’ul

Dan juga isim dlamir, seperti:

Isim isyarah

Contoh

Arti

Keterangan

هُوَ

هُوَ قَائِمٌ

Dia berdiri

هُوَ (isim dlamir) yang mahal rafa’ karena menjadi mubtada’

أَنَا

أَنَا أَبُوْ بَكْرٍ

Saya adalah Abu Bakar

أَنَا(isim dlamir) yang mahal rafa’ karena menjadi mubtada’

Related Posts
Newest Older
nahwushorof.com
Belajar Bahasa Arab Dengan Mudah Dan Sistematis

Related Posts

Post a Comment