Cara Cepat Memahami Ilmu Nahwu Dan Shorof

Sejarah Ilmu Nahwu

Ilmu Nahwu mempelajari isi bahasa dengan memperhatikan suara yang jatuh (syakal huruf) pada akhir setiap kata dan menentukan posisi kata tersebut dalam susunan kalimat. Misalnya lafad مسجد dalam al-Quran kita akan menemukan tiga macam syakal akhir yakni bersyakal akhir dhomah, fatah atau kasrah. Ketika kita salah menentukan syakal akhir maka akan sangat berpengaruh terhadap terjemah dan selanjutnya berakibat fatal terhadap penentuan hukum.

Selengkapnya inilah Mabadi (Pengantar Ilmu Nahwu)

Definisi :

 علم بأصول يعرف بها أحوال أبنية الكلمة التى ليست بإعراب ولا. بناء

Ilmu Pokok untuk mengetahui aturan-aturan akhir kalimat secara i’râb maupun mabni

Manfaat mempelajari Nahwu :

التحرز عن الخطاء في اللسان و الإستعانة على فهم كلام الله وكلام رسول الله

Untuk menjaga kesalahan dalam berbicara bahasa Arab, dan alat bantu untuk memahami KalamAllah (Al-Quran) danKalamRasulillah (Hadis).

Peletak Pertama

Peletak pertama Ilmu Nahwu Adalah Abu Aswâd al-Duali. Abu Aswad mendapatkan tugas langsung dari Khalifah saat itu yakni Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu pasca terjadinya kesalahan pembacaan harkat pada ayat 3 dari surah al-Taubah. Seharusnya dibaca dommah yakni Wa rasuluhu tapi dibaca kasrah yakni wa rasulihi. Perhatikan bunyi ayatnya:

 إنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُه

Jika dibaca dhammah (warasuluhu)makna dari ayat di atas adalah: “Sesungguhnya Allah dan Rasulnya tidak memperdulikan orang-orang Musyrik” Namun jika dibaca kasrah (wa rasulihi), makna dari ayat itu adalah “Sesungguhnya Allah tidak memperdulikan orang-orang Musyrik dan kepada Rasul-Nya.

Saat itu dalam al-Quran belum terdapat harkat, sementara Islam telah tersebar sedemikian luas ke pelosok penjuru negeri dan antar negara. Al-Quran tidak hanya menjadi bacaan orang Arab namun juga menjadi bacaan orang Ajam (non Arab). Maka timbul inisiatif Khalifah untuk mengharkati al-Qurân dan ditunjuklah Abu Aswad al-Dauli sebagai pengemban tugas.

Setelah Abu Aswad al-Dualy, Ilmu Nahwu dikembangkan oleh Abu Amr bin Ala’, Imam Khalil al-Farahidi (yang pertama kali mengenalkan tajwid dalam al-Quran) dan muridnya yaitu Imam Syibawaihi. Karya Nahwu yang paling popular di Indonesia adalah al-Jurumiyyah karya Abu Abdillah bin Muhammad bin Daud alShanhaji yang popular dengan sebutan Ibn al-Jurumy. Karya ini sangat mudah dipahami dan ringkas MengapaIlmu Nahwu dinamai dengan Nahwu? Jawaban dari pertanyaan itu adalah dengan mengenal sejarah Nomenklatur (penamaan) ilmu Nahwu. Adalah Abu Aswad al-Duali yangterinspirasi dari perkataan Ali Radiyallahu ‘anhu :

انح هذا النحو

Lanjutkanlah contoh ini

Istimdâd (sumber pengambilan) Ilmu Nawhu adalah darial-Quran dan Hadis Mengetahui pengambilan menjadi penting dibahas karena bagian dari Epistimologi sebuah ilmu.Mengingat Nahwu sudahmenjadi Ilmu (Science) bukan hanyasekedar pengetahuan (Knowledge).

HukumMempelajari Ilmu Nahwu

فرض الكفاية على كل ناحية وفرض العين على قارئ التفسير والحديث

Hukum mempelajari Ilmu Nahwu adalah Fardu Kifayah, namun status hukumnya menjadiFardu ain bagi orangyanginginmenelaah tafsir dan hadits.


Nahwu adalah ilmu untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata.

Contoh: جَاءَ رَجُلٌ ـ رَأَيْتُ رَجُلاً ـ مَرَرْتُ بِرَجُلٍ

Sharaf adalah ilmu tentang perubahan suatu kata.

Contoh: نَصَرَ ـ نَاصِرٌ ـ مَنْصُوْرٌ

 

Pembagian Huruf

اَلْحَرْفُ



A. Huruf  Mabany (Huruf Hijaiyah)

Huruf Mabany (Huruf Hijaiyah) adalah huruf yang digunakan untuk menyusun suatu kata. Huruf mabany terbagi menjadi 2:

1. Huruf ‘Illah. Huruf ‘Illah ada 3 huruf yaitu: ا و ي

2. Huruf Shahih. Huruf Shahih adalah seluruh huruf hijaiyah selain ا و ي

B. Huruf Ma’any

Huruf Ma’any adalah huruf-huruf yang mempunyai makna. Huruf ma’any terbagi menjadi beberapa macam, diantaranya:

  1. Huruf Jar, yaitu huruf yang membuat kata setelahnya secara umum berharokat akhir kasrah. Diantara huruf-huruf jar adalah: مِنْ ، إِلىَ ، عَنْ ، عَلىَ ، فِى ، رُبَّ ، بِ ، كَ ، لِ
  2. Huruf Athaf, yaitu huruf yang digunakan untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata yang lain. Diantara huruf-huruf athaf adalah:  وَ ، ثُمَّ ، أَوْ

Pembagian Kalimah

الْكَلِمَةُ
Al-Kalimah

Al-Kalimah (kata) adalah lafaz yang mempunyai makna.


A.  
Isim. Isim adalah kata yang menunjukkan atas suatu makna, dimana kata tersebut  tidak terikat dengan waktu.

Contoh:  كِتَابٌ ـ بَيْتٌ ـ دِيْنٌ ـ بَابٌ ـ أسْتَاذٌ ـ شَجَرَةٌ

B. Fi’il. Fi’il adalah kata yang menunjukkan atas suatu makna, dimana kata tersebut terikat dengan waktu.

Contoh:  نَصَرَ ـ كَتَبَ ـ ضَرَبَ ـ جَلَسَ ـ قَتَلَ ـ أَكَلَ

C. Huruf. Huruf adalah Kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain.

Keterangan : Huruf yang dikategorikan sebagai al kalimah adalah huruf-huruf ma’any.


Perbedaan Isim dan Fi'il

الْفَرْقُ بَيْنَ الاِسْمِ وَ الْفِعْلِ

(Perbedaan antara Isim dan Fi’il)

Ciri-ciri Isim :

عَلاَمَاتُ الاِسْم

1.  (ada tanwin)  التََّنْوِيْن. مِثْلُ :{ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ} البقرة:22

2.  (isimnya dikasroh)  الخَفْض. مِثْلُ :{بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} الفاتحة:1

3.  (ada alif lam)   الْأََلِفُ وَاللاَّم. مِثْلُ :{ ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ} البقرة:2

4.  (didahului huruf jer)   حَرْفُ الجَرِِّ. مِثْلُ :{ وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ}  البقرة:42

Ciri-ciri Fi’il:

عَلاَمَاتُ الْفِعْلِ

1. (qod di awalnya)  قَدْ. مِثْلُ :{ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ} البقرة: 60

2. (huruf sin di awalnya)  السِّيْنُ (سَـ). مِثْلُ : { سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا} الطلاق:7

3. (saufa di awalnya)  سَوْفَ. مِثْلُ : {كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ} التكاثر:4

4. (ta' sukun di akhirnya)  تَاءُ التَأْنِيْث ِالسَاكِنَةُ. مِثْلُ : {قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَـانِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا} مريم : 18

Catatan Perbedaan Isim dan Fi’il:

  • Huruf tidak ada ciri khusus. Untuk mengetahuinya harus dihafal.
  • Suatu kata sudah cukup dikatakan sebagai isim atau fi’il apabila telah menerima salah satu dari tanda di atas.
  • Pada ciri isim, antara tanda “tanwin” dan “alif lam” tidak akan pernah bertemu.
  •  Untuk fi’il, seringkali ciri-cirinya tidak disebutkan. 
  • Cara praktis untuk mengetahuinya adalah dengan menghafal ciri isim dan menghafal macam macam huruf. Apabila tidak termasuk isim maupun huruf berarti dia termasuk fi’il.

Idhafah

اَلإِضَافَةُ

Idhafah adalah bentuk penyandaran antara satu kata dengan kata yang lain.

Contoh:

رَسُوْلُ اللهِ: رَسُوْلُ = مُضَافٌ،  اللهِ = مُضَافٌ إِلَيْهِ

عَذَابُ الْقَبْرِ: عَذَابُ = مُضَافٌ، الْقَبْرِ = مُضَافٌ إِلَيْهِ

Ketentuan Umum:

1. Mudhaf tidak boleh ditanwin.

2. Mudhaf ilaih biasanya berharokat akhir kasrah.

3. Mudhaf dan mudhaf ilaih kedua-duanya merupakan isim.

Jumlah Mufidah

الجُمْلَةُ المُفِيْدَةُ  / اَلْكَلاَمُ

Jumlah mufidah adalah susunan kata yang dapat memberikan faedah yang sempurna.

Contoh:  

عَلِيٌّ مَِرْيضٌ

 رَجَعَ عَلِيٌّ

Adapun susunan kata yang tidak memberikan faedah yang sempurna tidak dinamakan sebagai Jumlah Mufidah.

Contoh:

إِنْ رَجَعَ عَلِيٌّ

إِنْ رَجَعَ عَلِيٌّ فَأَكْرِمْهُ


Jumlah ismiyah adalah jumlah yang diawali dengan isim.
Contoh:
عَلِيٌّ مَِرْيضٌ ،  مُحَمَّدٌ نَبِيٌّ   
Jumlah fi’liyah adalah jumlah yang diawali dengan fi’il.
Contoh:
ذَهَبَ زَيْدٌ ، رَجَعَ عَلِيٌّ  


Syibhul Jumlah

شِبْهُ الْجُمْلَةِ
Syibhul jumlah adalah rangkaian kata yang mirip dengan jumlah.
Zharaf adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu atau tempat.
Contoh:
أمَامَ ، وَرَاءَ = ظَرْفُ الْمَكَانِ
بَعْدَ ، قَبْلَ = ظَرْفُ الزَّمَانِ
Isim yang terletak setelah huruf jar dan zharaf maka secara umum berharokat akhir kasrah (Isim Majrur).
Contoh:
مِنَ السُوْقِ – جَرٌّ وَ مَجْرُوْرٌ
أمَامَ المَنْزِلِ – ظَرْفٌ وَ مَجْرُوْرٌ

Isim Mufrad, Mutsanna dan Jamak

أَقْسَامُ الاِسْم
تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى عَدَدِه
(Pembagian Isim Ditinjau Dari Segi Jumlah Bilangannya)


1. Isim Mufrad adalah Isim yang jumlah bilangannya satu. Contoh:
(Seorang mukmin) مُؤْْمِنٌ
(Seorang kafir) كَافِرٌ
2. Isim Mutsanna adalah Isim yang jumlah bilangannya dua. Contoh:
(Dua orang mukmin) مُؤْْمِنَانِ / مُؤْْمِنَيْن
(Dua orang kafir) كَافِرَانِ / كَافِرَيْن

Cara pembentukan isim mutsanna:

Dengan menambahkan huruf alif dan nun atau ya dan nun pada akhir isim mufradnya.
اِسْمٌ مُفْرَدٌ + ان/ين
Contoh:
مُؤْْمِنَانِ/ مُؤْْمِنَيْن <= مُؤْْمِنٌ + ان/ين
كَافِرَانِ/كَافِرَيْنِ <= كَافِرٌ + ان/ين
3. Isim Jamak adalah Isim yang jumlah bilangannya lebih dari dua. Isim Jamak terbagi menjadi 3:
  • Jamak Mudzakkar Salim
Jamak yang dibentuk dari isim mufradnya yang digunakan untuk menunjukkan jenis laki-laki. Contoh:
(Para laki-laki mukmin) مُؤْمِنُوْنَ / مُؤْمِنِيْنَ
(Para laki-laki kafir) كَافِرُوْنَ / كَافِرِيْنَ
Cara pembentukan Jamak Mudzakkar Salim adalah dengan menambahkan wawu dan nun atau ya dan nun pada akhir isim mufradnya.
اِسْمٌ مُفْرَدٌ + ون/ين 
Contoh:
مُؤْمِنُوْنَ/مُؤْمِنِيْنَ <= مُؤْمِنٌ + ون/ين
كَافِرُوْنَ/كَافِرِيْنَ <= كَافِرٌ + ون/ين
Ketentuan  isim agar dapat dibentuk menjadi jamak mudzakkar salim:
1. Nama orang. Contoh: مُحَمَّدٌ  -  مُحَمَّدُوْنَ / مُحَمَّدِيْنَ #  زَيْدٌ  -  زَيْدُوْنَ / زَيْدِيْنَ  
2. Sifat:
- Sifat Mengikuti wazan (pola) فَاعِلٌ. Contoh: كَاتِبٌ، نَاصِرٌ
- Sifat Mengikuti wazan (pola) مُفْعِلٌ. Contoh:  مُسْلِمٌ، مُفْسِدٌ 
- Sifat Mengikuti wazan (pola) مُفْتَعِلٌ. Contoh: مُجْتَهِدٌ، مُسْتَمِعٌ 
- Sifat Mengikuti wazan (pola) مُفَاعِلٌ. Contoh:مُجَاهِدٌ، مُنَافِقٌ 
- Sifat Mengikuti wazan (pola) مَفْعُوْلٌ. Contoh: مَنْصُوْرٌ، مَقْتُوْلٌ 

  • Jamak Muannats Salim
Jamak yang dibentuk dari isim mufradnya yang digunakan untuk menunjukkan jenis perempuan.Contoh:
(Para perempuan mu’min) مُؤْمِنَاتٌ
(Para perempuan kafir) كَافِرَاتٌ

Cara pembentukan isim jamak muannats salim:

Dengan menambahkan huruf alif dan ta' pada akhir isim mufradnya, apabila akhir isim mufrodnya ada ta' marbutoh maka tidak diikutkan dalam penulisannya.
اِسْمٌ مُفْرَدٌ ( x ة ) + ات 
Contoh:
مُؤْمِنَاتٌ <= مُؤْمِنٌ + ات <= مُؤْمِنَةٌ) × ة)
كَافِرَاتٌ <= كَافِرٌ + ات <= كَافِرَةٌ) × ة)
  • Jamak Taksir
Jamak yang berubah dari bentuk mufradnya.
Contoh:
رُسُلٌ <= رَسُوْلٌ
بُيُوْتٌ <= بَيْتٌ
كُتُبٌ <= كِتَابٌ
ُأسَاتِيْذ <= أُسْتَاذٌ

Isim Mudzakkar dan Muannats

تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى نَوْعِهِ
(Pembagian Isim ditinjau dari segi jenisnya)
1. Isim Mudzakkar adalah isim yang menunjukkan jenis laki-laki.
  • Isim Mudzakkar Haqiqi, yaitu isim yang berasal dari kelompok makluk hidup yang berjenis kelamin laki-laki. Contoh: 
تِلْمِيْذٌ (Seorang siswa laki-laki),
 أَسَدٌ (Seekor singa jantan).
  • kelamin laki-laki berdasarkan kesepakatan orang arab.Isim Mudzakkar Majazi, yaitu isim yang berasal  dari kelompok benda mati yang dianggap berjenis. Contoh:
بَيْتٌ (Sebuah rumah),
 قَمَرٌ (Bulan).
2. Isim Muannats adalah isim yang menunjukkan jenis perempuan.
  • Isim Muannats Haqiqi, yaitu isim yang berasal dari kelompok makluk hidup yang berjenis kelamin perempuan. Contoh:
مُدَرِّسَةٌ (Seorang pengajar perempuan)
هِرَّةٌ (Seekor kucing betina)
  • Isim Muannats Majazi, yaitu isim yang berasal dari kelompok benda mati yang dianggap berjenis kelamin perempuan berdasarkan kesepakatan orang arab. Contoh:
دَارٌ (Sebuah perkampungan)
شَمْسٌ(Matahari)

Tanda-Tanda Isim Muannats Diantaranya:

1. Isim yang diakhiri dengan ta’ marbuthoh. Contoh:
مَدْرَسَةٌ (Sekolah)
قَلَنْسُوَةٌ (Peci)
مُدَرِّسَةٌ (Seorang pengajar perempuan)
2. Nama orang perempuan. Contoh:
مَرْيَمُ (Maryam)
زَيْنَب (Zainab)
3. Isim yang khusus untuk perempuan. Contoh:
أُمٌّ (Ibu)
مُرْضِعٌ (Orang yang menyusui)
4. Nama negara atau kota. Contoh:
إِنْدُوْنِيْسِيَا (Indonesia)
جُوْكْجَاكَرْتَا (Jogjakarta)
5. Nama anggota badan yang berpasangan. Contoh:
عَيْنٌ (Mata)
يَدٌ (Tangan)
6. Jamak taksir. Contoh:
كُتُبٌ (Buku-buku)
فِرَقٌ (Golongan-golongan)
Catatan:
Nama orang laki-laki, walaupun diakhiri dengan ta’ marbuthoh tetap dikatakan sebagai isim mudzakkar.
Contoh :
أُسَامَةُ (Usamah)
مُعَاوِيَةُ (Mu’awiyah)

Isim Ma'rifat dan Nakirah

تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى تَعْيِيْنِهِ
(Pembagian Isim Ditinjau Dari Segi Kejelasannya)

1. Isim Nakirah. Isim Nakirah adalah isim yang belum jelas penunjukannya. Contoh:
مُسْلِمٌ (Seorang muslim)
كِتَابُ طَالِبٍ (Buku seorang mahasiswa)
2. Isim Ma’rifat. Isim Ma’rifat adalah isim yang sudah jelas penunjukannya. Contoh:
عُمَرُ  (Umar)
كِتَابُ مُحَمَّدٍ  (Buku Muhammad)

Macam-macam isim ma’rifat:

a. Dhamir (kata ganti orang). Contoh: هُوَ – أَنْتَ – أَنَا
b. Isim Isyaroh (kata penunjuk). Contoh: هَذَا – ذَلِكَ
c. Isim Maushul (kata sambung). Contoh: اَلَّذِيْ- اَلَّذِيْنَ
d. Isim ‘Alam (nama orang). Contoh: عُمَرُ  – مُحَمَّدٌ  – خَدِيْجَةُ
e. Isim yang ada alif dan lam. Contoh: اَلْبَيْتُ -  اَلْمِصْبَاحُ  – اَلْمَسْجِدُ
f. Isim yang disandarkan pada isim ma’rifat yang lain. Contoh: كِتَابُ مُحَمَّدٍ   -  صَاحِبُ البَيْتِ

Catatan:
  • Isim Nakirah biasanya mempunyai harokat akhir yang bertanwin. Contoh: مُسْلِمٌ – مِصْبَاحٌ
  • Nama orang walaupun bertanwin tetap dikatakan sebagai isim ma’rifat dan bukan sebagai isim nakirah. Contoh: مُحَمَّدٌ – زَيْدٌ
  • Apabila suatu isim disandarkan pada isim nakirah, maka dia adalah isim nakirah. Namun apabila disandarkan pada isim ma’rifat, maka dia adalah juga sebagai isim ma’rifat. Contoh: 
كِتَابُ طَالِبٍ -  كِتَابُ مُحَمَّدٍ

Pembagian Isim Ditinjau Dari Sisi Bangunan Akhirnya

تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى بُنْيَتِهِ
(Pembagian Isim Ditinjau dari Sisi Bangunan Akhirnya)

A. Isim Ghairu Shahih Akhir

  • Isim Maqshur

Isim Maqsur adalah isim yang diakhiri dengan huruf alif lazimah.
Alif lazimah adalah huruf alif yang senantiasa melekat di akhir dari suatu kata. Alif lazimah terkadang tertulis dengan huruf ya’, akan tetapi dalam pengucapannya tetap dibaca sebagai huruf alif. 
Contoh:
اَلْهُدَى (Petunjuk)
اَلْفَتَى (Remaja)
اَلْعَصَا (Tongkat)
  • Isim Manqush
Isim Manqush adalah isim yang diakhiri dengan huruf ya’ lazimah dan huruf  sebelumnya berharokat kasrah. Contoh:
اَلْهَادِي (Pemberi petunjuk)
اَلْقَاضِي (Hakim)
اَلدَّاعِي (Penyeru)
  • Isim Mamdud
Isim Mamdud adalah isim yang diakhiri dengan huruf hamzah dan sebelumnya berupa alif za’idah (tambahan). Contoh:
صَحْرَاءُ (Padang pasir)
سَمَاءٌ  (Langit)
اِبْتِدَاءٌ (Permulaan)

B. Isim Shahih Akhir

Isim Shahih Akhir adalah semua isim yang tidak masuk dalam kategori Isim Maqshur, Manqush ataupun Mamdud.Contoh:
خَيْلٌ (Kuda)
حِمَارٌ (Keledai)
ثَوُبٌ (Baju)
Catatan:
  • Jika isim mamdud berupa isim jamak, maka ia tidak boleh ditanwin.
  • Jika isim mamdud merupakan isim muannats, maka ia tidak boleh ditanwin.
  • Semua isim yang diakhiri dengan huruf-huruf shahih (kecuali hamzah) maka dia adalah isim shahih akhir.

Dhamir (Kata Ganti Orang)

اَلضَّمِيْرُ
(Kata Ganti Orang)


A. Dhamir Munfashil. 
    Dhamir Munfashil adalah dhamir yang penulisannya terpisah dengan kata yang lain.

Pembacaan Tabel: 

  • هُوَ  = Dia (Seorang laki-laki), 
  • هُمَا  = Mereka (Dua orang laki-laki/perempuan), 
  • هُمْ  = Mereka (Para lelaki), 
  • أَنْتَ  = Kamu (Seorang laki-laki), 
  • أنْتُمْ  = Kalian (Para lelaki), dst.
     Contoh:
هُوَ أُسْتاَذٌ (Dia adalah seorang Ustadz)
أَنَا مسْلِمٌ (Aku adalah seorang muslim)
B. Dhamir Muttashil. 
     Dhamir Muttashil adalah dhamir yang penulisannya bersambung dengan kata yang lain.

Pembacaan Tabel:

كِتَابُهُ  = Bukunya (Buku milik laki-laki itu)
كِتَابُهُنَّ  = Buku mereka (Buku milik para perempuan itu)
كِتَابُُنَا  = Buku kami

C. Dhamir Mustatir. 
Dhamir Mustatir adalah dhamir yang tidak tertulis dalam kalimat akan tetapi tersembunyi dalam suatu kata. (Akan datang penjelasannya, insyaAllah…)

Isim Ghairul Munsharif

اَلْمَمْنُوعُ مِنَ الصَّرْفِ / غَيْرُ الْمُنْصَرِفِ
(Isim Ghairul Munsharif)
Isim Ghairul Munsharif adalah isim yang tidak boleh ditanwin dan dikasrah. 
Contoh: 
عُثْمَانُ – مَسَاجِدُ – عُمَرُ – عَائِشَةُ
Syarat-syarat isim ghairul munsharif:
1. Tidak sebagai mudhaf (disandarkan pada isim yang lain). Contoh:
 صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ, مَرَرْتُ بِعُمَرَ
  • Apabila isim ghairul munsharif ini sebagai mudhaf, maka batal hukumnya. Contoh: 
صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدِ هِم
2. Terbebas dari alif dan lam. Contoh: 
صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ, مَرَرْتُ بِعُمَرَ
  • Apabila isim ghairul munsharif ini memakai alif dan lam, maka batal hukumnya. Contoh:
 صَلَّيْتُ فِى المَسَاجِدِ
Kelompok isim yang masuk dalam kategori ghairul munsharif
1. Bentuk jamak yang berpola مَفَاعِلُ  (shighoh muntahal Jumu’). Contoh: مَسَاجِدُ – مَقَاعِد
2. Isim maqshur yang berjenis muannats. Contoh: كُبْرَى – حُبْلَى
3. Isim mamdud yang berjenis muannats. Contoh: صَحْرَاءُ – حَمْرَاءُ
4. Nama perempuan. Contoh: مَرْيَمُ – عَائِشَةُ
5. Nama yang berpola فُعَلُ. Contoh: عُمَرُ – زُحَلُ
6. Nama yang diakhiri dengan tambahan alif dan nun ان. Contoh: عُثْمَانُ – سَلْمَانُ
7. Nama orang asing (selain arab) / nama ajam. Contoh: إِبْرَاهِيْمُ – إِسْمَاعِيْلُ

Catatan:
  • Isim maqshur yang bukan kelompok muannats, maka tidak termasuk isim ghairul munsharif. Contoh: هُدًى – فَتًى
  • Semua nama orang yang diakhiri dengan ta marbuthoh maka dia ghairul munsharif walaupun digunakan untuk nama orang laki-laki. Contoh: مُعَاوِيَةُ – طَلْحَةُ
  • Nama negara dan kota dikategorikan sebagai nama perempuan sehingga temasuk kelompok ghairul munsharif. Contoh: بَغْدَادُ – مِصْرُ

Isim Isyaroh dan Isim Maushul

اِسْمُ الْإِشَارَةِ
(Kata Penunjuk)

اَلاِسْمُ الْمَوْصُوْلُ
(Kata Sambung/Penghubung)

Isim Mu’rab Dan Isim Mabni

اَلاِسْمُ الْمُعْرَبُ وَالاِسْمُ الْمَبْنِيُّ
(Isim Mu’rab dan Isim Mabni)
1. Isim Mu’rab. 
Isim mu’rab adalah isim yang dapat berubah keadaan akhirnya disebabkan oleh adanya perbedaan letak (posisi) dalam suatu kalimat. Contoh:    
الْكِتَابُ جَدِيْدٌ  (Buku itu baru)
 قَرَأْتُ الكِتَابَ  (Aku membaca buku itu)
فِي الكِتَابِ قِِصَصٌ  (Di dalam buku itu terdapat kisah-kisah)

    Penjelasan:
  • Isim Marfu’. 
Isim marfu’ adalah isim yang biasanya pada keadaan akhirnya ditandai dengan harokat dhammah.
Contoh: مُحَمَّدٌ – أُسْتَاذٌ – طَالِبٌ
  • Isim Manshub. 
Isim manshub adalah isim yang biasanya pada keadaan akhirnya ditandai dengan harokat fathah.
Contoh: مُحَمَّدًا – أُسْتَاذًا – طَالِبًـا
  • Isim Majrur. 
Isim majrur adalah isim yang biasanya pada keadaan akhirnya ditandai dengan harokat kasrah.
Contoh: مُحَمَّدٍ – أُسْتَاذٍ – طَالِبٍ

2. Isim Mabni. 
Isim mabni adalah isim yang keadaan akhirnya tidak mengalami perubahan walaupun diletakkan pada posisi yang berbeda dalam suatu kalimat.Contoh: 
هَذَا جَدِيْدٌ  (Ini baru)
قَرَأْتُ هَذَا  (Aku membaca ini)
فِي هَذَا قِِصَص  (Di dalam ini terdapat kisah-kisah)
    Macam-Macam Isim Mabni
  • Dhomir (الضَمِيْرُ). Contoh: أَنْتَ – نَحْنُ - هُوَ
  • Isim Isyaroh (اِسْمُ الإِشَارَةِ). Contoh: هَذِهِ – هَؤُلاَءِ – ذَلِكَ
  • Isim Maushul (اَلاِسْمُ الَمْوْصُوْلُ). Contoh: اَلَّذِي – اَلَّتِي – اَلَّذِيْنَ
  • Isim Istifham (اِسْمُ الاِسْتِفْهَامِ). Contoh: مَنْ – أيْنَ – كَيْفَ
  • Isim Syarat (اِسْمُ الشَّرْطِ). Contoh: مَنْ – مَتَى -  مَا
Catatan:
  • Dhammah merupakan ciri pokok isim marfu’, fathah merupakan ciri pokok isim manshub, dan kasrah merupakan ciri pokok isim majrur.
  • Ada beberapa kelompok isim yang perubahan keadaan akhirnya tidak ditandai dengan perubahan harokat, akan tetapi dengan perubahan huruf. Contoh:
مُسْلِمُوْنَ (Marfu’)
مُسْلِمِيْنَ (Manshub)
مُسْلِمِيْنَ (Majrur)

Asmaul Khamsah

اَلأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ
(Isim-Isim Yang Lima)
أَبُوكَ – أَخُوْكَ – حَمُوكَ – فُوْكَ – ذُوْ مَال (Marfu’)
أَبَاكَ – أَخَاكَ – حَمَاكَ – فَاكَ –  ذَا مَالٍ (Manshub)
أَبِيْكَ – أَخِيْكَ – حَمِيْكَ – فِيْكَ – ذِيْ مَال (Majrur)

Ciri-Ciri I’rabnya Isim

عَلاَمَاتُ إِعْرَابِ الأَسْمَاءِ
(Ciri-Ciri I’rabnya Isim)

Pembagian Fi'il Ditinjau Dari Waktu Terjadinya

أَقْسَامُ الفِعْلِ
تَقْسِيْمُ الْفِعْلِ بالنَّظَرِ إِلَى زَمَنِ وُقُوْعِهِ
(Pembagian Fi’il Ditinjau Dari Waktu Terjadinya)

1. Fi’il Madhi. 
Fi’il madhi adalah fi’il yang menunjukkan kejadian pada waktu lampau. Contoh: 
خَلَقَ (Telah menciptakan)
خَرَجَ (Telah keluar)
أََمَرَ (Telah memerintah)
أَكَلَ (Telah makan)
2. Fi’il Mudhari’. 
Fi’il mudhari’ adalah fi’il yang menunjukkan kejadian pada waktu sekarang atau akan datang.            Contoh: 
يَخْلُقُ (Sedang/akan mencipta)
يَخْرُجُ (Sedang/akan keluar)
يَأْمُرُ (Sedang/akan memerintah)
يَأْكُلُ (Sedang/akan makan)
3. Fi’il Amr. 
Fi’il amr adalah fi’il yang digunakan untuk menuntut terjadinya sesuatu pada waktu setelah    pengucapan (kata kerja perintah). Contoh:
اُدْخُلْ (Masuklah)
اُخْرُُجْ (Keluarlah)
اِِجْلِسْ (Duduklah)
اِِرْفَعْ (Angkatlah)

Tashrif Lughawi 

اَلتَّصْرِيْفُ اللُّغَوِيُّ
Tashrif Lughawi
Tashrif lughawi adalah perubahan fi’il bersama dengan dhamirnya.
1. Tashrif lughawi untuk fi’il madhi.
Pembacaan Tabel:
  • كَتَبَ : Dia (seorang laki-laki) telah menulis.
  • كَتَبَا : Mereka (dua orang laki-laki) telah menulis.
  • كَتَبُوْا : Mereka (para lelaki) telah menulis.
  • كتَبَتْ : Dia (seorang perempuan) telah menulis.
  • كَتَبَتَا : Mereka (dua orang perempuan) telah menulis.
  • كَتَبْنَ : Mereka (para perempuan) telah menulis.
  • كَتَبْتَ : Kamu (seorang laki-laki) telah menulis.
  • كَتَبْتُمَا : Kalian (dua orang laki-laki) telah menulis.
  • كَتَبْتُمْ : Kalian (para laki-laki) telah menulis.
  • كَتَبْتِ : Kamu (seorang perempuan) telah menulis.
  • كَتَبْتُمَا : Kalian (dua orang perempuan) telah menulis.
  • كَتَبْتُنَّ : Kalian (para perempuan) telah menulis.
  • كَتَبْتُ : Saya telah menulis
  • كَتَبْنَا : Kami telah menulis
Contoh tashrif lughawi untuk fi’il نَصَرَ
Silakan dicoba:
 جَلَسَ (Duduk)
 قَتَلَ (Membunuh)
 شَرِبَ (Minum)
2. Tashrif lughawi untuk fi’il mudhari’
Pembacaan Tabel:
  • يَكْتُبُ : Dia (seorang laki-laki) sedang/akan menulis.
  • يَكْتُبَانِ : Mereka (dua orang laki-laki) sedang/akan menulis.
  • يَكْتُبُوْنَ : Mereka (para lelaki) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبُ : Dia (seorang perempuan) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبَانِ : Mereka (dua orang perempuan) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبْنَ : Mereka (para perempuan) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبُ : Kamu (seorang laki-laki) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبَانِ : Kalian (dua orang laki-laki) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبُوْنَ : Kalian (para lelaki) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبِيْنَ : Kamu (seorang perempuan) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبَانِ : Kalian (dua orang perempuan) sedang/akan menulis.
  • تَكْتُبْنَ : Kalian (para perempuan) sedang/akan menulis.
  • أَكْتُبُ : Saya sedang/akan menulis
  • نَكْتُبُ : Kami sedang/akan menulis
Contoh tashrif lughawi untuk fi’il يَنْصُرُ
Silakan dicoba: 
يَجْلِسُ (Duduk)
يَقْتُلُ (Membunuh)
يَشْرَبُ (Minum)
3. Tasrif lughawi untuk fi’il amr
Contoh tashrif lughawi untuk fi’il اُنْصُرْ
Silakan dicoba:
 اِجْلِسْ (Duduklah)
اُقْتُلْ (Bunuhlah)
اِشْرَبْ (Minumlah)

Huruf Mudhara’ah

حَرْفُ الْمُضَارَعَةِ
Huruf Mudhara’ah

Harful Mudhara’ah adalah huruf yang menjadi ciri khas dari fi’il mudhari, Huruf Mudhara’ah ini berupa huruf أ – ن – ي – ت di singkat  أَنِيْتَ 
Bisa dilihat pada awal huruf dibawah ini yang berwarna merah

Setelahnya Sebelumnya