KARYA SYEKH ABDUL MUHYI DIBAKAR OLEH DI TII

"Wilayah Pamijahan ieu teu nyesa, kabeh erep di duruk ku DI, ngan hiji nu teu ka duruk teh, nya eta maqamna Kanjeng syekh Adbul Muhyi" 

Wawancara dengan KH ENDANG AJIDIN Keturunan Ke-8 Syekh Abdul Muhyi

KH Endang Ajidin Keturunan Syekh Abdul Muhyi
KH Endang Ajidin


Pada Momen Hari Santri pada tanggal 22 Oktober Kemaren, Warga NU pamarican (sekitar 400 jamaah) mengikuti Upacara Hari Santri di Lapangan dadaha tasikmalaya yang dilanjutkan dengan acara ziaroh ke Salah satu waliyulloh di Tasikmalaya, yang tentu sudah tidak asing lagi bagi warga NU beliau adalah Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan.

Dalam kesempatan tersebut, Saya bersama beberapa 6 peserta ziaroh lainnya menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman Kuncen atau juru Kuci Makam waliyulloh syekh abdul Muhyi. beliau adalah KH Endang Ajidin yang merupakan keturunan yang ke -8 dari Syekh Abdul Muhyi. Atas ajakan dari Bapak Cucu Permana Putra Kepala Desa mekarmulya (salah satu desa di Kecamatan pamarican) kami bisa bersilaturahmi dengan beliau KH Endang Ajidin, hal ini memang sering dilakukan oleh bapak Cucu sendiri.

Singkat cerita, Setelah banyak obrolan-obrolan ringan dengan KH Endang Ajidin. Guru saya yang hadir pada waktu itu yaitu Kang M Ali Muhsin, bertanya tentang sejarah singkat perjuangan Syekh Abdul Muhyi dan Kenapa sampai di Pamijahan. KH Endang Ajidin pun menceritakan dengan sangat detail, dari mulai silsilah nasab beliau yang sampai kepada Syekh Jumadil Qubro bahkan sampai ke Rosulullah saw, Sejarah Syekh Abdul Muhyi ketika berguru kepada Cucu Syekh Adbul Qodir Jailani dan ketika ditampakannya ciri-ciri kewalian beliau, Sejarah bagaimana beliau sampai ke Tasikmalaya, cerita tentang karomah-karomah beliau, dan bahkan beliau menceritakan bagaiaman hubungan kekeluargaan antara Syekh Abdul Muhyi dengan pendiri NU yaitu Hadrotus Syekh KH Hasim Asy'ari, KH endang ajidin juga menyampaikan beberapa penailain Gusdur tentang Syekh Abdul Muhyi, Beliau juga menceritakan tentang bagaimana perkembangan islam di Pamijahan setelah wafatnya syekh abdul muhyi sampai periode kemerdekaan republik Indonesia (Hasil wawancara selengkapnya, insya Alloh akan dirangkum dalam tulisan lainnya).

Ada yang menarik dari pembicaraan tersebut, di tengah tengah KH Endang Ajidin bercerita tentang karomah dan kecerdasan serta Kealiman Syekh Haji Abdul Muhyi, beliau menyebutkan bahwa Syekh Adbul Muhyi sangat alim dan telah menyusun ratusan bahkan mungkin ribuan kitab baik yang berbahasa Arab maupun berbahasa Jawa. KH Endang Ajidin mengutip ucapan gusdur bahwa "Syekh Abdul Muhyi adalah wali termuda juga yang paling tua", KH Endang Ajidin menjelaskan maksudnya adalah Syekh Abdul muhyi itu adalah wali Alloh termuda dalam usia namun yang tertinggi dalam keilmuannya.

Namun KH endang Ajidin menyayangkan, dari semua karya Syekh Abdul Muhyi yang masih dapat ditemukan dan dibaca sekarang sangatlah sedikit. Dan itupun awalnya sudah tidak ada di daerah pamijahan, tapi di simpan di perpustakaan perpustakaan di berbagai daerah bahkan luar negeri. Kenapa sampai tidak ada karya yang tersisa di Pamijahan? beliau menjelaskan semua karya Waliyullah yang tetinggal dipamarijahan telah DIBUMIHANGUSKAN OLEH DI TII, sehingga tidak ada satu kitab pun yang tersisa.

"Wilayah Pamijahan ieu teu nyesa, kabeh erep di duruk ku DI, ngan hiji nu teu ka duruk teh, nya eta maqamna Kanjeng syekh Adbul Muhyi" (Wilayah Pamijahan tidak tersisa, semua habis di bakar oleh DI TII, cuma satu yang tersisa yaitu maqam syekh abdul muhyi) tutur KH Endang Ajidin. "Aya meren samobil treuk mah lamun dimobilan eta kitab, tapi kabeh di duruk ku DI" (Ada sekitar satu truk kalau di kumpulkan semua kitab, tapi semuanya HABIS DI BAKAR OLEH DI TII) "Ari pun Bapa mah di amankeun ka kota, sabab waktu harita kabeh tokoh-tokoh anu teu ngadukung DI bakal dipaehan" beliau melanjutkan.

DI adalah singkatan dari Daarul Islam atau Negara Islam, Mereka ingin mendirikan Negara Islam Di Indonesia dan menjadikan Indonesia Sebagai Khilafah Islamiyyah. Namun dalam kenyataanya tidak sesuai dengan Ajaran Islam, mereka Radikal, membunuh siapapun yang tidak sependapat dengan mereka baik itu dari kalangan pemerintah atau Ulama. Mereka juga menghalalkan pencurian di wilayah yang bukan wilayah mereka, karena mereka menganggap itu ghonimah atau harta rampasan perang. Sudah sangat jelas, bahwa DI TII dari namanya saja dia menggunakan simbol islam, dan mereka menyuarakan untuk menegakkan islam. Tapi sebenarnya merkea ingin menggulingkan pemerintahan yang sah dan menghancurkan Islam yang sbenarnya.

Walaupun DI TII sudah dibubarkan oleh pemerintah bersama rakyat di Tasikmalaya. Namun, sel sel serta benih Paham khilafah tidak serta merta bubar dan hilang dari bumi Indonesia. Tapi mereka menelurkan pemikiran-pemikiran yang sama dengan Bentuk Organisasi yang berbeda. Untuk itu, kita perlu berhati hati, karena masih banyak yang mengatasnamakan islam tapi tidak islami, banyak yang menjual agama demi kepentingan partai politiknya, dan masih banyak yang menggunakan simbol simbol islam untuk mengadu domba dan menghancurkan umat islam terutama mereka ingin melemahkan dan menghancurkan Islam Nusantara.

Samakah DI TII Dengan HTI? saya yakin anda tahu jawabannya.
Read More