Ketentuan Syarat dan Rukun Nikah dalam Islam

Nikah adalah salah satu syariat yang dapat menghalalkan sesuatu yang haram. Oleh karen itu, dalam praktiknya harus sesuai dengan aturan syariat islam, sehingga benar-benar sah dan tidak menjadikan pernikahan yang rusak. Ketika Nikah tidak sah, maka seluruh keharaman akan tetap haram.

Pernikahan sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. kepada siapa saja yang telah memenuhi Syarat Nikah. Rukun Nikah adalah segala sesuatu yang harus ada pada waktu akad nikah, karena akad nikah adalah termasuk ibadah. Bagi kedua mempelai, Nilai ibadah dari pernikahan tidak hanya pada waktu akad saja, melainkan selama hidup berumah tangga bersama istri dan anak. Jadi, Nikah adalah ibadah jangka panjang.

Setiap Masalah yang timbul dalam rumah tangga, sebenarnya adalah ladang amal, ketika suami dan istri mampu menghadapi masalah itu dengan bersama-sama dan saling mengerti satu sama lain akan kekurangan masing-masing.

Hadits - Hadits Tentang Aturan Pernikahan

Syarat dan Rukun nikah dalam islam

Untuk mengetahui dan menyimpulkan tentang Syarat dan Rukun nikah mari kita simak hadits-hadits berikut:
Hadits 1
Diriwayatkan dari imron bin husain ra, dari Nabi saw beliau bersabda "Tidak sah Nikah, Kecuali dengan wali dan 2 Saksi yang adil". Hadits riwayat Ahmad bin Hanbal
Hadits 2
Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra, dia berkata: Rasulullah saw Bersabda: "Tidak Sah Nikah, Kecuali dengan wali dan 2 saksi yang adil, jika wali berselisih, maka pemerintah adalah wali bagi orang yang tidak punya wali" Hadits riwayat ad Daruqutni.
Hadits 3
Diriwayatkan dari abu Hurairoh ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Tidak sah Nikah kecuali adanya orang yang empat, yaitu Laki-laki yang melamar, wali, dan 2 Saksi" Hadits riwayat al Baihaqi
Hadits 4
Diriwayatkan dari urwah dari Aisyah ra Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Mana saja perempuan yang nikah tanpa izin dari walinya, maka nikahnya bathil. Jika di dukhul (berhubungan intim) maka dia berhak menerima mahar, Dan jika wali berselisih, maka Pemerintah adalah wali bagi orang yang tidak punya wali" Hadits Riwayat 5 Ahli Hadits, kecuali an Nasai.
Hadits 5
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: "Janganlah seorang perempuan menikahkan perempuan, dan janganlah seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri, maka wanita yang zina dia adalah orang yang menikahkan dirinya sendiri" Hadits Riwayat Ibnu Majah dan ad Daruqutni.
Hadits 6
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra sesunggunya rasulullah saw bersabda: "Pelacur adalah wanita yang menikahkan dririnya sendiri tanpa adanya saksi" Hadits riwayat at Tirmidzi.
Hadits 7
Diriwayatkan dari Jabir ra, bahwa Rasulullah saw meminang Ummu Mubasyir binti al Barro ma'rur, Ummu mubasyir berkata: "Saya telah memberikan syarat (ikrar) pada suamiku untuk tidak menikah dengan orang lain setelah menikah dengan dia" Nabi saw bersabda:"Ini tidak benar/pantas" Hadits Riwayat at tabrani.
Hadits 8
Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kamu nikahkan janda sampai kamu berdiskusi dengannya, dan janganlah kamu nikahkan perawan sampai dimintai izin" Para sahabat bertanya: "Ya Rasulalloh bagaimana izinnya seorang perawan?" Rasulullah saw menjawab :"Jika dia Diam" Hadits Riwayat Bukhhari dan Muslim
Hadits 9
Diriwayatkan dari ibnu abbas ra, Sesungguhnya Nabi Saw bersabda:"Janda itu lebih berhak pada dirinya daripada walinya, adapun perawan itu harus dimintai izin, dan izinnya adalah diamnya" Hadits Riwayat Muslim.
Hadits 10
Diriwayatkan dari ibnu Umar ra, Sesungguhnya Nabi saw bersabda:"Ajaklah berdisukusi para perempuan untuk membicarakan anak anak perempuannya" Hadits riwayat Ahmad dan Abu dawud.

Kesimpulan Hukum Dari Hadits di Atas

Dari hadits-hadit di atas dapat kita simpulkan beberapa hukum dalam pertikahan, yaitu:
1. Ketika dilaksanakan akad nikah, maka harus ada (1) Pengantin Laki-laki (2) Wali (3) 2 orang saksi. Ketika pengantin laki-laki berhalangan hadir, maka mewakilkan akad nikahnya kepada orang lain
2. Jika salah seorang diantara 4 orang yang tadi tidak ada, maka akad nikah tidak sah.
3. Para ulama sepakat, bahwa dalam akad apapun termasuk akad nikah, Ijab dan Qabul dari kedua belah pihak merupakan hal yang wajib.
4. Perempuan tidak boleh menikahkan, apalagi seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri.
5. Jika seorang perempuan terikat perjanjian dengan mantan suaminya, misal dia berjanji tidak akan menikah lagi setelah berpisah dengan suaminya itu baik karena ditinggal mati atau karena cerai, maka perjanjian tersebut tidak benar dan tidak mengikat. Artinya perempuan tersebut boleh menikah.
6. Wanita janda ketika akan menikah, harus sesuai dengan keinginan atau pilihannya, artinya janda tidak bisa dipaksakan menikah. Wali atau orang tua harus mengajak berdiskusi tentang pernikahannya.
7. Jika seorang janda dipaksa menikah oleh walinya, maka nikahnya tidak sah.
8. Perawan yang akan ditikahkan harus terlebih dahulu dimintai izin oleh walinya, Jika dia diam saja artinya dia setuju.

Demikian sedikit tentang Penjelasan Syarat dan Rukun Nikah dalam Islam, tentu saja ini masih sebagian kecil, karena memaknai hadits tidak bisa hanya sebatas membaca teksnya saja. Namun sedikit penjelasan ini semoga bisa bermanfaat.

Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar
EmoticonEmoticon